Sabtu, 22 Juni 2013



Etnisitas Pembentukan “Nation and character builiding” Indonesia
 


BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Di Zaman dahulu negara indonesia telah terjadi era reformasi dimulai pada pertengahan tahun 1998. Indonesia yang muncul dari keruntuhan orde baru pada bulan mei mengalami krisis identitas parah. Namun, ada keperluan yang jelas untuk reformasi mendasar dan luas sampai reformasi total diperlukan diberbagai sektor, kata teknokrat veteran Emil Salim yang setidaknya terekspresikan sebagian dalam sidang istimewa MPR november 1998.  Tampaknya ada ketidakmampuan umum dikalangan elite untuk menginspirasi, menyalurkan, mengendalikan proses perubahan dan reformasi bangsa, serta memberi pemahaman baru atas apa yang diwakili gagasan indonesia. Persoalan utama yang dihadapi negara adalah pemecahan masalah identitas yang mendasar itu, tapi jawaban yang dapat diberikannya sangat terikat oleh batas-batas sepihak yang ditetapkan kemajuan proyek indonesia sepanjang abad kedua puluh.
Indonesia kita ini terdiri dari banyak suku bangsa atau etnis, dari etnis inilah kita bersama-sama bertekad untuk membangun Indonesia. Jadi, dasar dari Meng-Indonesia itu adalah Etnisitas yang dikembangkan dalam Bhinneka Tunggal Ika.  Masyarakat Indonesia memiliki kualitas atau kekuatan yang apabila dipupuk dan dikembangkan dapat mengantarnya kepada kemajuan. Pada masa perjuangan kemerdekaan, rasa persatuan atau kohesivitas bangsa sangat kuat karena ketika itu musuh bersama rakyat Indonesia sangat jelas yaitu penjajah Belanda. Di samping itu, persatuan menjadi makin kuat karena cita-cita yang hendak dicapai bersama juga sangat jelas yaitu Indonesia Merdeka. Tetapi disaat reformasi itu terjadi pada saat pimpinan soeharto bangsa indonesia tidak menyetujui karna pada saat dipimpin oleh soeharto negara indonesia semakin melemah dalam per ekonomiannya, maka dari itu negara indonesia mulai menurunkan jabatan soeharto, yang dimulai kerusuhan-kerusuhan yang terjadi disolo dan sikap anarkis para mahasiswa. Sedangkan didalam identitas etnis negara indonesia belum diperdebatkan sehingga masyarakat pun
1

berkeinginan untuk memunculkan etnik-etnik untuk melepaskan diri dari kesepakatan           mereka untuk berbangsa dan bernegara dari penjajah belanda, dimasa penurunan jabatan soeharto.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pengaruh etnisitas terhadap  pembentukan Indonesia?
2.      Bagaimana dampak globalisasinya terhadap etnisistas indonesia?
3.      Bagaimana pengaruh demokrasi etnisitas di Indonesia?
4.      Bagaimana pengaruh etnisitas dalam pembentukan “nation and character building”  indonesia?
C.     Tujuan Penulisan
·         Untuk mengetahui etnisitas indonesia di era reformasi
·         Untuk mengetahui tujuan etnisitas pembentukan “nation and character building” indonesia.
·         Untuk dapat mengetahui faktor-faktor yang terjadi dalam pembangunan negara indonesia.
·         Untuk mengetahui perubahan kebudayaan dan masyarakat diindonesia.
D.    Sistematika Penulisan
a.       Pendahuluan
·         Latar belakang
·         Rumusan masalah
·         Tujuan penulisan
·         Sistematika Penulisan
b.      Tinjauan Pustaka
·         Pengertian etnisitas nation and character building indonesia
c.       Pembahasan
·         Bagaimana pengaruh etnisitas terhadap  pembentukan Indonesia?
·         Bagaimana dampak globalisasinya terhadap etnisistas indonesia?
·         Bagaimana pengaruh demokrasi etnisitas di Indonesia?
·         Bagaimana pengaruh etnisitas dalam pembentukan “nation and character building”  indonesia?
d.      Kesimpulan
·         kesimpulan
e.       Daftar pustaka                                                                                                                        2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Pengertian etnis, etnisasi dan ‘nation and character building’
a.       Etnis
Dalam Ensiklopedi Indonesia disebutkan istilah etnis atau etnik berarti kelompok sosial dalam sistem sosial atau kebudayaan yang mempunyai arti atau kedudukan tertentu karena keturunan, adat, agama, bahasa, dan sebagainya. Anggota-anggota suatu kelompok etnik memiliki kesamaan dalam hal sejarah (keturunan), bahasa (baik yang digunakan ataupun tidak), sistem nilai, serta adat-istiadat dan tradisi. Menurut Frederich Barth (1988) istilah etnik menunjuk pada suatu kelompok tertentu yang karena kesamaan ras, agama, asal-usul bangsa, ataupun kombinasi dari kategori tersebut terikat pada sistem nilai budayanya. Kelompok etnik adalah kelompok orang-orang sebagai suatu populasi yang mampu melestarikan kelangsungan kelompok dengan berkembang biak. Mempunyai nila-nilai budaya yang sama, dan sadar akan rasa kebersamaannya dalam suatu bentuk budaya. Membentuk jaringan komunikasi dan interaksi sendiri.
Menentukan ciri kelompoknya sendiri yang diterima oleh kelompok lain dan dapat dibedakan dari kelompok populasi lain.
Schemerhon dalam Purwanto (2007) mendefinisikan etnik sebagai kolektiva yang memiliki persamaan asal nenek moyang, baik secara nyata maupun semu, memiliki pengalaman sejarah yang sama, dan suatu kesamaan fokus budaya yang terpusat pada unsur-unsur simbolik yang melambangkan persamaan ciri-ciri fenotipe, religi, bahasa, pola kekerabatan, dan gabungan unsur-unsur itu.

b. Etnisitas
Etnisitas adalah suku bangsa, yakni berkaitan dengan kesadaran akan kesamaan tradisi budaya, biologis, dan jati diri sebagai suatu kelompok dalam suatu masyarakat yang lebih luas.


3

c. Nation and character building
Nation and character building merupakan pembangunan karakter dan bangsa. Ernest Renan berpendapat, nation atau bangsa ialah suatu solidaritas besar, yang terbentuk karena adanya kesadaran akan pentingnya berkorban dan hidup bersama-sama di tengah perbedaan, dan mereka dipersatukan oleh adanya visi bersama. Sedangkan arti karakter itu sendiri berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi ‘positif’, bukan netral. Jadi, ‘orang berkarakter’ adalah orang punya kualitas moral (tertentu) yang positif. Dengan demikian, pembangunan karakter, secara implisit mengandung arti membangun sifat atau pola perilaku yang didasari atau berkaitan dengan dimensi moral yang positif atau yang baik, bukan yang negatif atau yang buruk, khususnya disini bangsa yakni dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.















4
BAB III
PEMBAHASAN
1.          Bagaimana pengaruh etnisitas terhadap pembentukan Indonesia?
Dalam vakum politik kelembagaan dalam konteks hancurnya arsitektur kaku pada orde baru yang dirancang untuk mengekang ketegangan etnis dan agama akibat lengsernya soeharto, dan perebutan yang terjadi sesudahnya untuk mengisi kekosongan dengan isi baru yang bermakna, memungkinkan kemunculan kembali ekspresi identitas etnis yang telah lama dibungkam dan adakalanya melibatkan kekerasan. Kecenderungan itu mendapat dukungan dari perubahan dunia akibat dari perpecahan Uni soviet dan runtuhnya kekuasaan negara besar itu di Eropa timur dab Asia Tengah. Paradigma politik dunia tak lagi tidak menyetujui kemunculan entitas-entitas nasional kecil yang merdeka malah setidaknya untuk sementara, yang timbul adalah simpatik bagi kemunculan negara bangsa berdasarkan etnis sebagai perwujudan sentimen nasional “ sejati dan populer “ yang berbeda dengan “ negara besar-isme “ yang dipaksakan dan refresif pada masa dingin.
Identitas etnis mengekspresikan diri dalam berbagai cara dan kadar. Keliru kiranya menganggap bahwa maraknya keresahan berdasarkan etnis sekedar efek antagonisme primordial yang kembali bisa muncul setelah lama ditindas orde baru. Pergolakan tersebut justru cerminan ketidakpuasan, pencabutan, serta peminggiran sosial dan ekonomi akibat penyempitan akses politik dan pengetatan ruang nasional yang khas Orde baru.[1] Peranan budaya suku /etnis dalam pembangunan bangsa Setiap suku bangsa memiliki ciri-cirinya tersendiri yang membedakan dengan suku bangsa lainnya. Perbedaan-perbedaan antara satu suku bangsa/ etnik dapat dijumpai antara lain dari bahasanya, tradisi dan budayanya, serta berbagai cara hidup mereka dan nilai-nilai budaya yang mereka anut. Perbedaan itu menciptakan keberagaman etnis dan budaya di Indonesia. Keberagaman ini menciptakan perbedaan-perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat. Namun para pendiri negara sudah mengantisipasi kondisi ini dengan membuat semboyan “Bhineka Tunggal Ika” (berbeda-beda tetapi tetap satu), dengan satu harapan bahwa dalam keberagaman suku bangsa ini tetap terjalin persatuan di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bahkan dalam Kongres Nasional Pemuda Indonesia II Tahun 1928 para pemuda dari berbagai etnik di Nusantara berikrar untuk menyatukan diri di bawah nama Indonesia (berbahasa satu, berbangsa satu, dan bertanah air satu; Indonesia).Budaya Suku Bangsa di Indonesia terbentuknya keberanekaan suku bangsa di Indonesia disebabkan oleh awal mula kedatangan nenek moyang Bangsa Indonesia ke Nusantara. Sebagian besar penduduk di Nusantara berasal dari ras Proto Melayu dan Mongoloid (China), namun ada pula sebagian kecil berasal dari ras Negroid. Kemudian di Nusantara mereka mengembangkan kebudayaan mereka dan menyesuaikan dengan alam dan tantangan kehidupan yang ditemuinya. Sehingga di setiap daerah menciptakan tradisi dan kebudayaannya masing-masing.
Meskipun mereka sama-sama berasal dari ras yang sama akan tetapi karena tantangan kehidupan, alam dan lingkungan yang berbeda sehingga melahirkan kebudayaan yang berbeda pula. Meskipun serumpun orang Bugis, Makassar, Mandar, mungkin Toraja memiliki perbedaan kebudayaan dan pola kemasyarakatannya. Seperti halnya di Sumatra antara orang Aceh, Padang, Minang, dan mungkin Batak juga terdapat perbedaan-perbedaan. Di Pulau Jawa antara orang Jawa, Sunda, dan Betawi juga memiliki perbedaan. Perbedaan-perbedaan itu dapat dikenali dengan mengamati perilaku/ aktifitas kehidupan mereka dalam memberikan jawaban terhadap tantangan hidupnya dan menanggapi alamnya. Dalam perkembangan kemudian masing-masing suku bangsa yang sudah mulai terbentuk tersebut kemudian pula mendapat pengaruh dari kebudayaan luar. Masing masing kebudayaan tersebut meninggalkan anasir-anasir kebudayaannya dalam masyarakat di Nusantara. Kesukubangsaan dalam Persatuan Bangsa Indonesia sudah sejak awal terbentuknya terdiri atas ratusan atau mungkin ribuan suku bangsa. Sebagian di antaranya harus punah karena tidak mampu mempertahankan kehidupannya.
Hal inilah yang telah bertahun-tahun telah terjadi di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Persoalan suku bangsa selalu menonjolkan perbedaan yang dimiliki sebagai suatu hal yang tidak sewajarnya. Selain itu juga menganggap bahwa suku bangsa mayoritas adalah suku bangsa yang lebih unggul dari pada yang minoritas. Padahal bukan disitu persoalannya. Multi Etnik dan Pembangunan Bangsa Bangsa Indonesia sebagai sebuah bangsa yang memiliki etnik yang cukup banyak seharusnya menyadari bahwa bangsa ini memiliki banyak manusia unggul di dalamnya. Masing-masing etnik yang ada di Nusantara ini harus menunjukkan rasa bangga terhadap suku bangsanya karena menyadari memiliki keunggulan, namun pada saat yang bersamaan
6
ia pun harus menunjukkan rasa hormat dan penghargaannya kepada suku bangsa yang lain yang juga memiliki keunggulan yang berbeda dari dirinya yang akan mengisi kekurangannya. Dengan demikian pembangunan bangsa dapat berlangsung dengan baik.
2.      Bagaimana dampak globalisasi terhadap Etnisitas Indonesia?
Sebelum mengetahui dampak globalisasi arti etnisitas atau Kebudayaan adalah segala hal yang dimiliki manusia, yang hanya diperolehnya dengan belajar dan menggunakan akalnya. Manusia dapat berjalan dengan kemampuan untuk berjalan itu didorong oleh nalurinya, dan terjadi secara alamiah, tetapi berjalan seperti prajurit atau  sebagai seorang pragawati hanya dapat dilakukan dengan belajar dan menggunakan akalnya. Oleh karna itu berjalan seperti prajurit atau pragawati adalah “kebudayaan”. Kebudayaan adalah segala pikiran dan prilaku manusia yang secara fungsional dan difungsional ditata dalam masyarakatnya.
Dizaman ini GLOBALISASI di indonesia sangat mempengaruhi Sosial Budaya Indonesia. Nilai-nilai moral bangsa Indonesia yang terdahulu terkenal dengan adat ketimuran bangsa Indonesia yang mempunyai nilai-nilai budaya yang luhur, adab kesopanan yang tinggi, saat ini karena pengaruh globalisasi yg disusupi oleh gaya kapitalis dan misi satu negara yang sudah masuk ke dalam kebudayaan Indonesia dengan segala pemikiran liberalis yang akhirnya mengikis nilai-nilai budaya Indonesia yang bermartabat menuju pada moral bangsa yg rendah, karena tidak sesuai dengan idiologi Pancasila yg memiliki dasar ke Tuhanan dan telah dilanggar dengan pemikiran-pemikiran liberalis yang bebas mendefinisikan makna ke Tuhanan dan kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan pemikiran-pemikiran yg liberal yaitu berdasarkan hasil pemikiran individu atau kelompok dan bukan berdasarkan aturan hukum ke Tuhanan yang diajarkan oleh suatu agama. Terutama perubahan ini terlihat sekali memasuki wilayah aturan agama yang dipeluk oleh mayoritas masyarakat Indonesia yaitu Islam. Kebebasan berfikir dan mendefinisikan amalan ibadah yang tidak sesuai dengan aturan/hukum yang sudah ditetapkan dalam ajaran islam ini, nampak jelas sekali sedang diupayakan untuk dirusak dan di selewengkan dengan mengatas-namakan toleransi dan hak asasi manusia dalam menjalankan amalan ibadahnya menurut keyakinannya sendiri dan dari hasil pemikirannya sendiri yang sudah dipengaruhi oleh gaya pemikiran Liberal yang mengusung kebebasan tanpa
7
batas dan ini bertentangan sekali dengan norma-norma agama yang diajarkan pada umumnya dan norma ajaran islam pada khususnya yang mempunyai batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar karena dasar keimanan kepada Allah swt.
Pengaruh globalisasi di Indonesia yg sudah didominasi oleh gaya kapitalis dan pemikiran liberalis secara perlahan sudah berusaha menggrogoti nilai-nilai ideologi Pancasila yang memiliki arti kemanusian yang adil dan beradab dengan menimbulkan banyak perubahan pada nilai-nilai kemanusiaan yang beradab kepada nilai pemikiran Liberalis dan memberikan dampak kemerosotan moral menjadi tidak beradab yaitu dengan maraknya pornografi dan pornoaksi yang mengatasnamakan seni dan menungkir balikan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia dengan adat ketimurannya yang dahulu selalu menjaga nilai kemanusiaan yg beradab, namun kini pengaruh kapitalis yang mengusung pemikiran liberalis dengan kebebasan tanpa batas, sesungguhnya sudah menurunkan arti peradaban bangsa Indonesia yang dahulu selalu dijunjung tinggi menjadi negara dengan kemerosotan moral yang cukup tajam dan tidak sesuai dengan Ideologi Pancasila yang menganut faham ke Tuhanan YME yg seharusnya mengikat tiap-tiap individu masyarakat/bangsa dengan nilai-nilai ke Tuhanan yang sudah digariskan dalam satu ajaran agama yang mengikat dengan batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar. Dan gaya kapitalis dan liberalis sudah melanggar makna kemanusiaan yg beradab menjadi tidak beradab dengan melokalisir tempat-tempat perjudian dan perzinahan, dan mulai maraknya satu kelompok yang ingin melegalkan kaum homoseksual agar diakui keberadaannya di Indonesia, jelas bertentangan sekali dengan Ideologi Pancasila, khususnya sila ke Tuhanan YME dan kemanusiaan yg adil dan beradab.
Misi Kapitalis Dengan Pemikiran Liberalis Gaya kapitalis dengan pasar bebasnya dan pemikiran liberalis yang tanpa batas dan disertakan dalam globalisasi, sudah menciptakan banyak malapetaka di Indonesia yaitu makin terpuruknya perekonomian Indonesia denga pasar bebasnya, dimana kita tidak mampu bersaing dengan negara-negara yang mengusung misi tersebut dengan memberikan banyak persyaratan-persyaratan politik yang diajukan oleh penyandang dana seperti IMF dan Bank Dunia, sehingga Indonesia hanya dijadikan sebagai koloni untuk memasarkan hasil-hasil industri negara-negara maju yg mengusung misi idiologi suatu negara tersebut, tanpa mampu menjual hasil industri negara Indonesia yg sudah dirobohkan sendi-sendi perekonomian di seluruh sector industri, keuangan maupun perdagangan dengan
8
menggunakan kelompok-kelompok tertentu. Pengaruh globalisasi yang mengusung misi gaya kapitalis dan pemikiran liberalis berusaha ingin menghancurkan dan mengacaukan sendi-sendi agama mayoritas di Indonesia dengan kebebasan untuk memaknai ajaran agama berdasarkan pemikiran Liberal tanpa batas, justru telah melanggar aturan-aturan hukum agama yang telah digariskan oleh batasan-batasn yg tidak boleh dilanggar, karena keimanan kepada Allah swt. Dikarenakan agama dijalankan bukan sekedar mengandalkan pemikiran semata, tapi memaknai agama harus dilengkapi dengan keimanan yang dibatasi oleh aturan-aturan yg dibuat oleh Allah dan tidak boleh di langgar oleh pemeluknya.
Pemikiran Liberalis yang tanpa batas sudah menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan dengan peradaban budaya timur Indonesia yang begitu tinggi dengan nilai kesopanan, tata krama yang diikat oleh aturan agama, tapi kini sudah terpuruk dengan moral yang rendah dan nilai etika serta adab yg jauh dari kesopanan maupun peradaban manusia yg mengkampanyekan pornografi dan pornoaksi dengan alasan seni, serta berusaha melegalkan kaum homoseksual untuk diakui keberadaannya, dan ajang-ajang miss universe yang mengumbar kemolekan tubuh dan dibingkai dengan latar belakang intelligent pendidikan yang tinggi, yg sebenarnya sudah melanggar batasan budaya Indonesia dan kaidah agama. Dan melokalisir tempat-tempat perjudian dan kemaksiatan yang sesungguhnya sudah menanamkan bibit-bibit kebejadan moral individu suatu bangsa yang sudah tidak berbudaya apalagi ber ke Tuhanan, tanpa sadar sesungguhnya sudah mengkhianati dan mengikis habis arti dan makna Ideology Pancasila yang dianut oleh bangsa Indonesia. Pengaruh globalisasi yang ternyata mengusung misi politik suatu bangsa yang maju untuk masuk ke Indonesia, secara langsung sudah menggrogoti ideology negara yaitu Pancasila dan tanpa sadar telah digantikan oleh gaya kapitalis dan saat ini Pancasila hanya akan dijadikan sebagai simbol negara yg tanpa makna, karena sudah tercabut jati dirinya yg memuat 5 dasar yg berisi tujuan dan cita-cita bangsa yg tertuang dalam UUD’45, sesungguhnya tanpa sadar saat ini Indonesia telah dijajah dengan penjajahan model baru yg secara jelas menghancurkan seluruh aspek pertahanan kita dari dalam dengan memanfaatkan satu kelompok-kelompok tertentu. Akibat penjajahan dengan model baru dengan simbol globalisasi, yang mengikut sertakan misi perubahan idiologi suatu negara secara perlahan menjadi ideology negara pencetus globalisasi dengan gaya
9
kapitalis dan pemikiran liberalis. hingga tanpa sadar idiologi Pancasila sudah digantikan oleh pencetus globalisasi yg membawa misi politik idiologi suatu negara tersebut.

3.      Bagaimana pengaruh demokrasi etnisitas di Indonesia?
Etnisitas merupakan Sejarah panjang Nusantara dengan keragaman adat dan etnis dalam konteks persatuan yang dicitakan oleh idealisme kuasa. Konsepsi nusantara inilah yang menjadi model, bagaimana etnisitas menjadi penanda pluralitas, namun dibingkai dalam semangat integrasi maupun bayang-bayang kekuasaan. Perkara etnisitas yang nampak pada beragamnya komunitas adat muncul kembali pasca reformasi. Keistemewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang menjadi polemik politik nasional merupakan contoh betapa adat dan etnisitas menjadi perkara penting. Di negeri ini, masyarakat adat merupakan elemen penyangga wacana etnisitas dalam bingkai pluralisme. Puncak kebangkitan masyarakat adat pasca reformasi ditandai oleh penyelenggaraan Kongres Masyarakat Adat Nusantara (KMAN) di Jakarta pada Maret 1999. Pada momentum itu, peserta kongres menyampaikan manifesto "Kalau negara tidak mengakui kami, maka kami tidak mengakui negara". Ungkapan tersebut merupakan reaksi terhadap kebijakan pemerintah yang cenderung menutup mata terhadap eksistensi masyarakat adat, persinggungan kepentingan ekonomi sumber daya daerah dan usaha untuk menggali kembali identitas masyarakat adat. Namun, bangkitnya legitimasi kultural masyarakat adat juga dibarengi oleh sentimen kedaerahan, yang memperuncing problem seputar etnisitas. Permasalahan etnis mengemuka kembali, misalnya aksi Republik Maluku Selatan (RMS), komunitas Dayak Kalimantan, serta warga Papua yang memperjuangkan hak-hak komunal, yang berseberangan dengan kepentingan negara. Berpijak dari konteks di atas tentang masyarakat adat Nusantara, buku The Revival of Tradition in Indonesian Politics: The development of adat from colonialism to indigenism merupakan ulasan komprehensif tentang muasal, muatan politis-ideologis, maupun kritik terhadap bangkitnya masyarakat adat di Indonesia, tak lepas dari wacana indigenisme yang berkembang sebagai ideologi kultural. David Henley-Jamie Davidson mengungkapkan, Indigenisme sebagai sebuah ideologi, dipelopori Amerika Serikat, Australia, dan Skandinavia. Di negara-negara tersebut, para pemukim Eropa dan anak keturunannya menggantikan penduduk asli yang telah ada sebelumnya.
10
Di Indonesia seperti pada kebanyakan negara-negara Asia- persoalan membedakan kelompok yang indigenous dari yang non indigenous lebih rumit. Sebagaimana kebanyakan pemerintah di Asia, Indonesia di bawah Soeharto menggunakan pembenaran bahwa semua orang Indonesia adalah indigenous sebagai dalih untuk menolak penggunaan peristilahan dan implikasi-implikasi dari perdebatan internasional. Hadirnya masyarakat adat di berbagai daerah di Indonesia, merupakan kasus penting kajian politik pascakolonial. Fenomena itu memberi bukti bahwa identitas keIndonesiaan belum selesai diperdebatkan. Problem etnisitas yang berkelindan dengan fenomena masyarakat adat merupakan penanda bahwa identitas keIndonesiaan masih menyisakan tanya. Maka, tak salah apabila Indonesia -meminjam ungkapan Ben Anderson- merupakan immagined community atau komunitas terbayangkan. Politik identitas itu merupakan problem yang terus berputar sebagai pertanyaan tentang Indonesia lampau, kini dan akan datang.

4.      Bagaimana pengaruh etnisitas dalam pembentukan “nation and character building”  indonesia?
Indonesia adalah bangsa yang terdiri dari beragam suku bangsa, etnisitas, bahasa, agama, dan adat-istiadat, yang satu sama lain saling memperkaya bangunan kebangsaan yang plural dan kokoh. Dengan kata lain, Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. rasa meng-Indonesia tumbuh atas kesadaran bersama segenap elemen yang ada untuk bersama-sama mewujudkan, memelihara dan memajukannya, tanpa memandang etnis atau suku manapun, yang seharusnya itu semua menjadi satu yakni pemersatu bangsa Indonesia. Indonesia hadir bukan atas pemberian kaum penjajah melainkan atas perjuangan bangsa kita yang bersatu tanpa melihat suatu etnis pribadi.
Komposisi keragaman dan kemajemukan bangsa merupakan modal berharga bagi pembentukan jati diri dan karakter bangsa, yang mana diikat pula oleh konsensus dasar Negara kita yaitu Pancasila. Etnisitas dalam konteks Indonesia akan dapat berperan penting di dalam pembentukan karakter pembangunan bangsa karena dari berbagai etnisitas lah indonesia mempunyai beraneka ragam kekayaan dan kebudayaan yang bersatu menjadi satu kesatuan RI. Menurut indeks dari kedua jilid Ensiklopedia suku-suku Bangsa Diindonesia yang ditulis oleh ahli antropologi J.M Melalatoa (1995), setelah saya hitung, jumlah suku bangs aindonesia hampir 500 suku
11
bangsa, sedang dalam Ensiklopedi suku bangsa Di indonesia karya ahli antropologi Zulyani Hidayah tercantum sebanyak 656 suku bangsa (hlm.284). perbedaan jumlah suku bangsa dalam kedua ensiklopedi itu tentu disebabkan karena karakter yang digunakan berbeda.[2]
Indonesia merupakan negara besar dan plural. Besar karena, wilayahnya yang amat luas dan jumlah penduduknya yang demikian banyak. Plural, karena kenekaragaman budaya (suku/etnis, ras, adat-istiadat, bahasa dan agama). Faktor etnisitas tadi jika ditransformasikan secara produktif, akan menyumbangkan pertumbuhan kehidupan demokrasi yang baik dan menjadi ciri karakteristik bangsa dengan berbagai budayanya yang ada,namun tetap berbhineka tunggal ika. Tetapi juga sebaliknya bisa memicu konflik jika setiap kelompok gagal membangun sikap solidaritas sebagai warga Negara dan bangsa (nation-state).



















BAB IV
KESIMPULAN

1.      Kesimpulan
Masyarakat Indonesia memiliki kualitas atau kekuatan yang apabila dipupuk dan dikembangkan dapat mengantarnya kepada kemajuan. Pada masa perjuangan kemerdekaan, rasa persatuan atau kohesivitas bangsa sangat kuat karena ketika itu musuh bersama rakyat Indonesia sangat jelas yaitu penjajah Belanda. Perbedaan-perbedaan antara satu suku bangsa/ etnik dapat dijumpai antara lain dari bahasanya, tradisi dan budayanya, serta berbagai cara hidup mereka dan nilai-nilai budaya yang mereka anut. Perbedaan itu menciptakan keberagaman etnis dan budaya di Indonesia. Keberagaman ini menciptakan perbedaan-perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat. Namun para pendiri negara sudah mengantisipasi kondisi ini dengan membuat semboyan “Bhineka Tunggal Ika” (berbeda-beda tetapi tetap satu), dengan satu harapan bahwa dalam keberagaman suku bangsa ini tetap terjalin persatuan di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Komposisi keragaman dan kemajemukan bangsa merupakan modal berharga bagi pembentukan jati diri dan karakter bangsa, yang mana diikat pula oleh konsensus dasar Negara kita yaitu Pancasila. Etnisitas dalam konteks Indonesia akan dapat berperan penting di dalam pembentukan karakter pembangunan bangsa karena dari berbagai etnisitas lah indonesia mempunyai beraneka ragam kekayaan dan kebudayaan yang bersatu menjadi satu kesatuan RI.









13


DAFTAR PUSTAKA

·         Diambil dari buku R.E Elson “ The idea of indonesia sejarah pemikiran dan gagasan”.
·         Melalatoa, M.J (1995) Ensiklopedi Suku Bangsa Di indonesia, I-II. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, R.I
·         Diambil dari buku “ Adat dalam politik Indonesia
·         Bahrum, Shaifuddin, 2008, Berubah, Metamorfosis Masyarakat Tionghoa Makassar dalam 10 Tahun Reformasi, Baruga Nusantara, Makassar.
·         Bahrum, Shaifuddin, 2008, Berubah, Metamorfosis Masyarakat Tionghoa Makassar dalam 10 Tahun Reformasi, Baruga Nusantara, Makassar.
·          Bakir Zein, Abu, 2000, Etnis Cina, dalam Potret Pembauran Indonesia, Prestasi Insan Indonesia, Jakarta.
·         Diambil dari buku sumber “pengantar antropologi”, dari koentjaraningrat.
·         Ignas Kleden. 1987. Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan. Jakarta: LP3S
Koentjaraningrat.















[1] Dikutip dalam Fitri wulandari, “ Indonesian Youths Have Little Sense of Nationhood”, The Jakarta, 16 Agustus 2002.                                                                                                                                                                                  5
[2] Buku-buku etnografi mengenai kebudayaan suku-suku bangsa di berbagai tempat didunia umumnya memakai daftar unsur-unsur kebudayaan universal sebagai kerangka etnografinya.
12